Showing posts with label Figur. Show all posts
Showing posts with label Figur. Show all posts

Wednesday, December 12, 2018

Ketua MUI Kec. Cileungsi, KH. Aos Firdaos Bin H. Hamdan Meninggal Dunia

Almarhum KH. Aos Firdaos.
Ketua MUI Cileungsi - Bogor.
*INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN*

Berita Duka:
Kami atas nama Keluarga Besar MUI Kab.Bogor mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya atas wafatnya *KH. AOS FIRDAOS bin H. HAMDAN, ketua MUI Kec.Cileungsi, pada hari Rabu, 12 Desember 2018 pukul 15:20 WIB di RSUD Cibinong.*

Beliau wafat sesaat setelah mengikuti Rapat Koordinasi di MUI Kab.Bogor.

Mudah-mudahan almarhum wafat dalam keadaan husnul khotimah, dan berada dalam rahmat Allah.SWT.

Dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan.
Proses Pemakaman Ketua MUI Cileungsi.
Melalui pesan ini juga kami mengajak masyarakat untuk bersedia membacakan surat al-Fatihah dan doa untuk beliau.

اللهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ - أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

*Dewan Pimpinan MUI Kab.Bogor*

Ketua Umum,
*Dr. KH. Ahmad Mukri Aji, MA. MH.*

Sekretaris Umum,
*H. Romli Eko Wahyudi, MM.*
Baca selengkapnya

Friday, November 30, 2018

Hidup Di Era Kini Harus Membangun Cita-cita Yang Sempurna.

Meraih Mimpi Bukan Hanya Tidur.
Bacalah Hingga Selesai..
Adik-adik remaja sekalian, jika kalian masih bercita-cita jadi PNS, biar besok2 hidup terjamin sampai tua, maka itu cita-cita generasi luama sekali, orang tua kita dulu, SMA angkatan 70-80 mungkin masih begitu.

Jika kalian bercita-cita jadi karyawan BUMN, biar gaji bagus, pensiun ada, besar pula, maka itu juga generasi lama, paman-paman, tante-tante kita dulu, SMA angkatan 90-an, itu cita-citanya.

Jika kalian bercita-cita jadi karyawan multi nasional company, perusahaan swasta besar, biar bisa tugas di luar negeri, tunjangan dollar, itu juga cita-cita kakak-kakak kita dulu, yang SMA angkatan 2000-an.

Kalian adalah generasi berbeda..Kalian adalah yang SMP, SMA, atau kuliah di tahun 2010 ke atas. Seharusnya kalian tidak bercita-cita seperti itu lagi. Kalian adalah warga negara dunia, tersambung dengan seluruh sudut dunia.
Apa cita-cita kalian?

Jadilah pekerja kreatif, wiraswasta, profesi pekerjaan bebas, dan pekerjaan2 yang menakjubkan lainnya. Kalian menonton film seperti Iron Man, Avengers, Minion, maka besok2 giliran film kalian yang ditonton orang.

Kalian jadi konsumen Burger King, KFC, dll, maka besok-besok giliran orang lain yang jadi konsumen franchise milik kalian. Hari ini kalian memakai baju, pakaian buatan orang lain, besok-besok giliran orang lain yang pakai baju kalian.

Hari ini kalian berobat ke rumah sakit, besok2 giliran orang yang berobat di klinik dengan sistem dan cara berbeda milik kalian.
Itulah dunia kalian..Masa depan..

Jangan mau hanya jadi pengikut, follower, tapi berdiri di depan, giliran orang lain yang mengikuti dan mendengarkan trend yg kita buat. Maka bila saat itu tiba, kita bisa benar2-benar bilang : Merdeka!!

Ayolah, lupakan sejenak bekerja jadi PNS, karyawan BUMN, atau karyawan swasta, masuk pagi, pulang malam. 30-40 tahun bekerja, pensiun. Itu sudah terlalu banyak orang yang melakukannya, masa’ kita akan ikut jalan serupa, saatnya kalian memulai jalan berbeda.

Jangan takut dengan kegagalan, jangan takut dengan tidak punya pekerjaan, menganggur, dll, dll. Sepanjang kita memang sungguh2, tahan banting, kita bisa menjadi yang terbaik di bidang yang kita geluti.

Setinggi apapun jabatan kalian, jika masih PNS, karyawan BUMN, karyawan swasta, maka sejatinya tetap saja suruhan orang lain. Punya atasan, dan hidup kita laksana siklus dari bulan ke bulan, gajian ke gajian.

Asyik duduk di belakang meja, lamat-lamat menatap media sosial, komen ini, komen itu, dan sebagainya, dan sebagainya. Tapi tetap saja begitu-begitu saja hidup kita.
Tidak, adik-adik sekalian, hidup kalian bisa lebih berwarna. Kalian bisa jadi apa saja.

Jangan buat sempit cita-cita, mimpi-mimpi kalian. Generasi kalian seharusnya tidak terikat waktu, tidak korupsi waktu, sebaliknya, kalian bebas dan fleksibel menentukan jam kerja sendiri.

Yakinlah, besok lusa, karya kalian akan menaklukkan kota-kota jauh, bahkan negara-negara jauh. Besok lusa, profesi kalian akan memiliki reputasi hingga pulau-pulau seberang, benua-benua luar.

Kalian bukan lagi generasi yang bahkan naik pesawat saja mahal dan susah. Atau mau berkirim kabar harus memakai telegram dan pager. Sambutlah masa depan kalian yang gemilang.

Jadilah pekerja kreatif, wiraswasta, profesi2 penuh passion dan suka-cita. Itulah panggilan generasi kalian. Dan saat kalian bisa menggapainya, kalian bisa berteriak sekencang mungkin: Merdeka! Karena hidup kalian sungguh sudah merdeka.

Mulailah dari sekarang, remaja. Cari hobi dan aktivitas bermanfaat. Tekuni. Besok-besok kalian menjadi master di bidang tersebut.

Maka kita tidak lagi bicara tentang besok pagi2 berangkat kerja, sore2 pulang nanti macet, aduh, besok sudah Senin lagi, melainkan bicara: besok saya akan menginspirasi siapa, nanti sore saya akan mengubah apa, dan besok Senin saya akan meluncurkan karya apa lagi.

By: Najwa Shihab
Baca selengkapnya

Monday, November 26, 2018

Tulisan Ini Sebagai Bahan Diskusi Saja, Antara Islam, PKI, PKS, Marhaen, Jokowi, Prabowo, Megawati, Amien Rais, Soeharto, Soekarno Dan Tokoh Bangsa Lainnya

Gambar Hanya Pemanis Saja.
Tulisan Ini Saya Copy Paste Dari Facebook.

Mengapa ada yang benci Jokowi ?
Dulu waktu Jokowi mencalonkan diri sebagai Walikota Solo, PAN ada bersama dia. Periode kedua, PKS ikut berkoalisi mendukung Jokowi. Ketika sahabat saya yang juga kader PKS dan juga elite PKS mencalonkan diri sebagai Kepala Daerah di Sumatera Barat, dia menggandeng kader PDIP sebagai wakilnya. Saya sempat tanya apa alasannya memilih PDIP sebagai mitra koalisi? jawabnya sederhana tapi membuat saya terkejut. “ Apa yang diperjuangkan oleh PDIP itu juga yang diperjuangkan PKS. Idiologi PDIP itu membela kaum marhaen, kaum lemah. Hakikat Islam yang diperjuangkan adalah kaum lemah untuk keadilan." Namun ketika Jokowi diusung oleh PDIP sebagai capres, maka keadaan menjadi lain. Mengapa ? pertama karena Presiden adalah jabatan pimpinan Nasional, maka ini berhubungan dengan agenda nasional, masalah idiologi. Kedua, Jokowi di usung oleh PDIP. Sebagaimana diketahui bahwa di Indonesia ini hanya ada dua partai berbasis idiologi, yaitu PDIP dan PKS.
PDIP.
Marhaen adalah ajaran Soekarno yang intinya membela kaum tertindas agar mandiri dan kuat. Apa yang dimaksud dengan marhaen itu ? Marhaen adalah nama petani asal jawa barat sebagai lambang anak bangsa punya alat berproduksi untuk kehidupan diri dan keluaganya. Kemudian PDIP menterjemahkan marhaen itu dengan istilah wong cilik. Kalau dilihat sekilah, marhaen itu hampir sama dengan ajaran komunis sosialis yang membela kaum buruh dan tani. Tapi jelas kalau anda baca buku tulisan Soekarno, ada perbedaan yang prinsip dengan komunis sosialis. Namun didalam Marhaen semua golongan bisa nyaman. Golongan Islam, Nasionalis. sosialis, tentara, ada. Soekarno tidak mengajak orang perang kelas. Tidak mempersoalkan perbedaan sosial. Tidak. Soekarno menggunakan Marhaen untuk melahirkan Pancasila sehingga diterima semua golongan.
Apa yang menjadi ruh dari Marhaen dalah Pancasila. Marhaen tidak bicara golongan atau kelas tapi bicara sistem yang menjajah. Bagi Soekarno kelas itu ada karena sistem. Maka sistem itulah yang harus diperangi. Maka kemerdekaan itu adalah keniscayaan. Soekarno yakin untuk mencapai kemandirian masyarakat marhaen harus melalui revolusi. Makanya walau setelah indonesia merdeka, Soekarno masih menggunakan jargon Revolusi. Dan dia disebut sebagai bapak revolusi yang senantiasa mengobarkan api revolusi. Mengapa ? Karena setelah merdeka, sistem belum bisa mengubah nasip kaum marhaen. Sistem patron dan clients yang melekat dengan kebudayaan Indonesia masih terjebak dengan feodalisme dan menindas kaum marhaen.
PKS.
Banyak orang menilai PKS itu identik dengan HTI , yang punya cita cita mengubah NKRI menjadi Negara Islam atau ingin mengubah Pancasila menjadi Syariah. Itu tidak tepat. Kalau sampai terjadi persepsi seperti itu dapat dimaklumi karena PKS adalah reinkarnasi gerakan politik islam sejak kematian Masyumi oleh rezim Soekarno dan Soeharto. Gerakan itu bangkit sejak tahun 1970 namun lebih kepada gerakan dakwah. Tidak bicara politik. Makanya Soeharto tidak curiga. Tetapi diam diam gerakan itu terus membesar. Karena ada Mohammad Natsir yang merupakan tokoh Masyumi dan juga penggerak utama DDII (Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia), yang belakangan berhasil menarik pensiunan jenderal dan elite politik ujtuk mengeluarkan mosi tidak percaya kepada Soeharto dalam bentuk petisi 50. Sejak itu M Natsir dan kawan kawannya di cekal seumur hidup.
Walau gerakan itu semakin dipersempit ruangnya karena sudah masuk radar di curigai Soeharto, namun secara diam diam mereka terus bergerak melalui LDK ( lembaga Dakwah Kampus ), yang kemudian banyak bergerilya di dalam kampus dan tetap bagian dari DDII. Lambat laun menjadi gerakan Tarbiyah yang bukan hanya membangun masjid di kampus tapi juga lembaga pendidikan Nurul Fikri, lembaga dakwah Khoiru Ummah, kelompok kesenian nasyid, dan majalah Sabili. Selain itu, gerakan Tarbiyah juga menyebarkan berbagai gagasan dan pemikiran mereka melalui buku-buku yang diterbitkan antara lain oleh penerbit Gema Insani Press (GIP), Pustaka Al-Kautsar, Era Intermedia, dan Asy-Syamiil.
Ketika tahun 1998, Soeharto jatuh, dan kaum reformis menang, gerakan islam yang tadinya dibawah tanah, segera bangkit mengambil kesempatan ini. Apakah yang muncul Masyumi ? wajah baru dalam gerakan kesatuan Islam ? Tidak. Mengapa ? karena tokoh pemersatu gerakan islam ketika itu Amin Rais tidak komit. Seandainya Amin Rais sebagai tokoh gerakan Reformasi bersedia menjadi Ketua Umum Partai Bulan Bintang ( PBB) , kemungkinan besar PK tidak akan pernah ada. Bahkan PKB dan PAN juga tidak ada. PBB akan sangat besar seperti era kejayaan Masyumi tahun 1955 karena gabungan dari semua gerakan islam. Tapi Amin Rais menolak jadi tokoh gerakan islam dan mendirikan partai pribadinya yang bernama PAN. Karena itu lahirlah PK, yang kemudian menjadi PKS.
Nah siapa yang ada didalam PK itu? ya dari semua gerakan islam. Tidak ada satupun golongan islam yang dominan. Mereka dengan latar belakang aliran Islam berbeda berkumpul menjadi satu di partai ini. Orang dengan pemahaman agama seperti apa pun bisa masuk PK. Di partai ini, ada orang berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan aliran lainnya. Jadi kalau sampai ada orang HTI masuk dalam PK itu juga tidak bisa dipungkiri atau keluarga dari mantan pemberontak DII/TII juga bisa. Tapi PK ternyata tidak begitu efektif menarik massa islam. Karena terjadi banyak faksi PK sehingga arah perjuangan tidak jelas. Terbukti dalam pemilu suara PK hanya satu koma.
Tahun 2002 PK berubah menjagi PKS. Saat itulah PKS sangat berbeda dengan PK. PKS menjadi partai terbuka dan syariat islam adalah masa lalu. Tentu perubahan politik PKS ini membuat kader akar rumput dari berbagai aliran islam seperti HT dan lain lain merasa di khianati. Karena agenda mereka ingin mengubah Pancasila dan UUD 45 menjadi Syariat Islam. DI Era SBY banyak kader PK yang mengundurkan diri. Namun sejak Pemilu 2014, SBY berhasil mempersatukan ormas islam seperti HTI, Syalafi, Masyumi, FUI, FPI, untuk mendukung PKS, PAN dan PKB berhadapan dengan PDIP yang mencalonkan Jokowi sebagai Presiden.
Perseteruan antar Idiologi.
Semua tahu adanya kesepakatan China ASEAN free Trade Area yang memungkinkan China punya akses luas ke Indonesia dalam hal investasi dan perdagangan itu ditanda-tangani era SBY. Yang ketika itu SBY didukung oleh koalsi partai islam. Tetapi anehnya issue soal Jokowi pro China dan PKI yang sengaja di hembuskan oleh kubu Prabowo, langsung di makan oleh akar rumput partai pendukung Prabowo. Mengapa ? karena ada alasan historis yang rasional tentang issue tersebut. Ceritanya begini. Seusai Pemilu 1955, diadakan sidang konstituate yang bertujuan mengubah UUD 45. Kelompok Islam sudah diatas angin untuk mengubah UUD 45 sesuai dengan syariah islam dengan mengembalikan tex Pancasilan sesuai dengan Piagama Jakarta. Soekarno tidak happy atas situasi sidang konstituante itu. Kalau sampai Soekarno menolak perubahan UUD 45 yang dirancang oleh Konsituante bentukan Pemilu 1955, itu bukan karena Soekarno anti demokrasi tapi lebih karena kekawatirannya perubahan UUD 45 akan melahirkan feodalisme gaya baru melalui patron agama. Apalagi ketika itu Masyumi berhasil menjadi partai besar. Atas dukungan dari TNI, Soekarno mengeluarkan dekrit presiden kembali ke UUD 45 secara murni maka saat itulah genderang perang dengan patron kaum agama, khususnya golongan islam yang punya agenda syariah. Tentu mereka sakit hati. Karena apabila tidak ada dekrit presiden, perjuangan mendirikan negara islam sudah terjelma.
Tentu Soekarno bersikap seperti hal tersebut punya alasan yang kuat. Soekarno percaya bahwa antara islam , nasionalis dan komunis punya agenda sama yaitu bagaimana membela kaum marhaen dan mendobrak mata rantai patron yang membelenggu kemandirian kaum marhaen. Makanya NU menyatakan keluar dari Masyumi dan bergabung dalam barisan nasional mendukung Soekarno bersama PKI, PNI, yang kemudian di kenal dengan NASAKOM. Musuh kaum marhen setelah merdeka bukanlah orang asing tapi bangsa sendiri yang masih punya mental feodal dalam hubungan antara patron dan clients. Politisi agama tak lain memberikan peluang patron agama menindas clients yang juga kaum marhaen. Karenanya tanpa ragu Soekarno melibas semua patron islam yang berpolitik dan makar. TNI tanpa ragu ada dibelakang Soekarno bukan hanya karena loyalitas tapi juga TNI diberi hak berpolitik. Sehingga semua dalam barisan strategis menuju indonesia mandiri.
Kelompok islam punya agenda yaitu mendirikan negara berbasis syariah. Karenanya mereka tidak pernah menganggap musuh selain PDIP. Bagi mereka semua partai selain PDIP adalah pragmatis, yang bisa berubah haluan kapan saja tergantung situasi dan kondisi politik. Jadi musuh golongan islam adalah kelompok yang memperjuang idiologi. Dan itu adalah Marhaen yang dibungkus dengan Partai Nasionalis, yang kemudian berinkarnasi menjadi PDIP. Benarkah ? Perhatikan sejarah berikut: Di era Soeharto walau bagaimanapun sikap keras Soeharto terhadap kelompok radikall islam, Ormas islam mayoritas dan kelompok intelektual islam tetap menaruh harapan kepada kepemimpinan Soeharto sebagai soft landing untuk hadirnya kekuatan baru islam di Indonesia. Setelah Soeharto jatuh dan Megawati berhasil menjadikan PDIP sebagai pemenang pemilu 1999, namun gagal sebagai RI-1. Kursi presiden jatuh kepada Gur Dur. Mengapa? Adanya poros tengah yang merupakan koalisi partai islam yang memastikan Gus Dur unggul dalam Voting di MPR. Megawati harus ikhlas menerima posisi sebagai wakil presiden.
Tampilnya SBY ke panggung politik, karena semua ormas islam dan Partai islam bersatu mendukung SBY dengan tekad asal bukan Megawati ( asal bukan PDIP). Padahal ketika itu Megawati berpasangan dengan Hashim Muzadi yang juga ketua PBNU namun tidak ada pengaruhnya meredam issue negatif bahwa PDIP anti islam. Tahun 2009 Megawati berpasangan dengan Prabowo dengan harapan kelompok islam yang ada dibelakang SBY bisa menyeberang ke Megawati. Namun tidak ada pengaruhnya. SBY semakin solid dengan Partai islam dan ormas islam. Nah tahun 2014, Prabowo berpasangan dengan Hatta Rajasa dari PAN. Semua partai islam dan ormas islam bersatu mendukung Prabowo. Mengapa ?
ini bukan karena Prabowo hebat dan dipercaya tetapi karena Jokowi diusung oleh PDIP. Musuh mereka bukan Jokowi tetapi PDIP. Ini dendam lama yang tak pernah padam. Samahalnya sekarang. Semua elite partai islam seperti PKS dan PAN sangat paham bahwa kinerja Jokowi tidak perlu diragukan. Mereka sangat tahu bahwa Jokowi adalah pemimpin terbaik yang pernah ada di Indonesia, tetapi masalahnya ini soal politik. Idiologi marhaen yang ada pada PDIP itulah pokok persoalannya. Walaupun Jokowi berpasangan dengan KH. Ma’ruf Amin yang tokoh NU dan juga ketua Umum MUI, tidak ada pengaruhnya mengurangi kebencian kelompok islam yang masih bermimpi mendirikan negara berbasis syariah. Kelompok islam tidak peduli bila Prabowo punya agenda seperti era Orba yang pernah membuat luka perjuangan islam. Bagi mereka itu lebih baik daripada negara dibawah kendali kaum marhen dan nasionalis yang pasti membuat agenda mereka mendirikan negara berbasis syariah terkubur zaman.
Kesimpulan
Ketidak sukaan sekelompok umat islam terhadap Jokowi khususnya yang ada di Sumatera Barat- Riau yang dulu sebagai basis PRRI dan Jawa Barat yang dulu sebagai basis DII/TII. Itu bagian dari sejarah gelap bangsa ini yang sampai sekarang masih menyimpan dendan. Masih ada sekelompok orang tidak pernah seratus persen menerima Pancasila sebagai falsafah negara, sebagai dasar idiologi negara. Padahal di era sekarang idiologi tidak lagi sebagai panglima sejak Komunis bangkrut di Uni Soviet dan China jadi kapitalis, dan pasar terpuruk di jantung kapitalis Wallstreet. Turki sebagai simbol khilafah yang pernah sukses berkuasa 600 tahun, bergandengan tangan dengan China dan Rusia yang sekular. Arab sebagai pengawal dua kota suci, mulai berhutang RIBA untuk APBN nya dan menerapkan pajak penjualan. Jadi kalau masih bermimpi berkuasa dengan alasan menegakan syariah islam secara kaffah, itu sudah ketinggalan jaman. Cara berpikir terbelakang dan tidak intelek.
Era sekarang adalah era kolaborasi dan sinergi antara golongan, antar bangsa, antar agama. Semua bertujuan untuk perdamaian agar mencari uang mudah, berbahagia dengan cara sederhana. Pemimpin hebat tidak ditentukan oleh pendidikan atau sipil militer, ulama non ulama tetapi oleh akhlak. Orang memilih pemimpin karena akhlaknya. Apa dasar memilih pemimpin ? dia punya sifat rendah hati dan hidupnya sederhana. Bijaksana, yang tidak mudah menciptakan konplik dan musuh. Jujur dan amanah. Setia kepada keluarga dan sahabat. Cerdas. Konsisten, dan bertanggung jawab karena itu. Tidak mementingkan diri sendiri dan keluarga. Bukan dari golongan hamba sahaya atau yang hidup dari derma dan donasi. Tapi sebagai wirausaha yang mampu menghidupi dirinya sendiri dari kreatifitas akal. Dan yang sangat penting adalah Taat menjalankan agama. Itu semua ada pada Jokowi.
Baca selengkapnya

Wednesday, August 15, 2018

Bahwa Otto Iskandar Dinata Pengusul dan Pengusung Soekarno-Hatta Menjadi Presiden Dan Wakil RI Ke- 1

Bahwa Otto Iskandar Dinata Pengusul dan Pengusung Soekarno-Hatta Menjadi Presiden Dan Wakil RI Ke- 1

Itu fakta sejarah bahwa walau Otto Iskandar Dinata orang yang berjasa sebagai pengusung & pengusul Sukarno-Hatta jadi Presiden RI ke 1, seharusnya dijadikan orang yang benar-benar dihargai dan diberi penghargaan yang sangat besar dan setimpal.
Minimal dijadikan seorang Menteri bahkan Perdana Menteri.

Tapi itu fakta sejarah, urang Sunda yang membesarkan nama Sukarno-Hatta....jangankan Kota Bandung dijadikan Daerah Khusus Kota Bandung (seperti Yogyakarta), lebih parah diculik, dibunuh dan hilang jejak selamanya di tatar Pasundan lagi.

Semoga dalam perjalanan program Revitalisasi Sungai Citarum tidak terulang lagi.

Orang yang benar-benar ikhlas berjuang untuk kembalinya ke'suci'an dan kebersihan DAS Citarum disingkirkan & dihilangkan di berbagai ranah.

Sedangkan orang yang tidak jelas dan hanya ambil keuntungan & manfa'at untuk kepentingan pribadi malah dijadikan 'pahlawan' dan diberi fasilitas serta penghargaan dimanapun.

Semoga para pejuang DAS Citarum nasibnya tidak seperti Otto Iskandar Dinata yang berjuang demi harga diri & martabat urang Sunda dan tatar Pasundan (Jawa Barat & Banten) ditenggelamkan di tanah kelahiran tercintanya , aamiiin.
Baca selengkapnya
Wartawan Bukan Untuk di Takuti Apalagi di Buat Sakit Hati

Wartawan Bukan Untuk di Takuti Apalagi di Buat Sakit Hati

Wartawan adalah orang bebas, wartawan bebas menulis apa yang Ia lihat dan Ia dengar berdasarkan hati nurani, kode etik dan UU Pers.

Wartawan tidak memiliki kategori status sosial yang pasti, pagi Ia bisa ngobrol dengan abang becak, Siang Ia bisa makan bersama para pejabat, sore Ia bisa bincang-bincang dengan pemuka agama dan malam Ia juga "bisa" berada di cafe,diskotik,dan Bar.

Setiap hari Ia menyapa publik dengan informasi, tak peduli Informasi yang disajikan itu diapresiasi atau dicaci, untuk memenuhi kewajibannya terhadap publik, wartawan memberikan informasi berdasarkan kebenaran yang diyakininya benar dan chek and richek, terkadang risiko nyawa tanpa Ia sadari mengancam dirinya dan keluarganya.

Sungguh profesi yang amat agung, dimana seorang wartawan berperan besar dalam seluruh aspek kehidupan, sejarah mencatat, kemerdekaan Indonesia dikumandangkan ke seantero dunia melalui media oleh seorang wartawan

Al-quranul karim, Al - hadist pun hasil daripada kegigihan para wartawan ( _para sahabat Nabi_ ) didalam mencatatkan wahyu dari *ILLAHI* yang turun kepada para Nabi dan mencatatkan hadist yang disampaikan Rasulullah kepada umatnya kala itu.

Baegitu penting peran wartawan dalam sendi - sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, namun mengapa kini wartawan dibungkam dengan pasal 310,311,UU ITE, dan upaya paksa mempidanakan wartawan dengan cara - cara  yang sangat bertentangan dengan UU Pers dan KIP bahkan HAM.

Wartawan tak perlu dibungkam, wartawan tak perlu dipidana, wartawan itu hanya butuh dibina dan diawasi dengan profesional dan menjadikan UU Pers sebagai satu - satunya alat mengontrol, mengawasi kebebasan Pers di negeri ini.

Wartawan bukan untuk ditakuti, wartawan bukan untuk dibasmi, wartawan penentu masa dapan sebuah bangsa dan kemajuan sebuah negara serta pertahanan negara.

Wahai para pejabat, jangan engkau takut kepada wartawan, jangan engkau takut pada kami yang mengemban tugas social control Bangsa bahkan Dunia.
Baca selengkapnya

Wednesday, August 8, 2018

Jika Rhoma Irama Terpilih Menjadi Presiden

Jika Rhoma Irama Terpilih Menjadi Presiden

KEUNTUNGAN JIKA RHOMA IRAMA JADI PRESIDEN

1. Tunjangan PNS bertambah karena ada tunjangan istri ke 2, 3 dan 4.

2. Lembur akan dihapus karena "BEGADANG" tiada artinya.

3. Jumlah penduduk stabil tetap "135 juta jiwa".

4. Gelar pahlawan diganti menjadi "SATRIA BERGITAR".

5. TNI kembali menjadi ABRI (Anak Buah Rhoma Irama).

6. Negara akan aman karena sudah tidak ada "ADU DOMBA".

7. Penduduk Indonesia akan sehat karena diwajibkan "LARI PAGI".

8. Neraca pendapatan belanja negara aman karena sistem "GALI LOBANG TUTUP LOBANG".

9. Negeri ini bebas dari jomblo karena "HIDUP TANPA CINTA BAGAI TAMAN TAK BERBUNGA".

10. Indonesia akan terbebas dari "MIRASANTIKA" dan "JUDI".

11. PMI tidak akan kekurangan darah, sebab semua golongan darah bisa disuplai oleh "DARAH MUDA".

12. Menurunnya angka perselingkuhan, negara bebas dari PIL dan WIL karena "PERHIASAN DUNIA ADALAH ISTRI YANG SHALEHAH".

Maka pilihlah Bang Haji! Kalo tidak, maka *"SUNGGUH TER... LA... LU...".*
😜
Baca selengkapnya

Tuesday, July 31, 2018

Ibu Niroh: Bang Sinyo Orangnya Sangat Baik

Suryadi Efendi, SE (kemeja putih) menjenguk Ibu Niroh (baju merah) di kediamannya
Kab. Bekasi, Z@manHP - Ibu Niroh (42), salah satu warga Desa Cibening, Kec. Setu, yang menderita sakit gejala stroke dan di rawat beberapa hari Rumah Sakit mendapat perhatian dari Kepala Desa Cibening nonaktif, Suryadi Efendi, SE yang mencalonkan kembali dalam perebutan kursi Kepala Desa Cibening.

Bang Sinyo sapaan akrab Suryadi Efendi, SE menjenguk Ibu Niroh di kediamannya, Kp. Cikedokan RT 03 RW 01 Desa Cibening sekitar pukul 17:00 WIB bersama beberapa rekannya. Selasa (31/7/18).

Dalam kesempatan itu, Bang Sinyo mengatakan, "Alhamduli­llah Ibu Niroh sudah kembali ke rumahnya dengan kondisi yang sehat wal afiat, semoga Ibu Niroh segera lekas sembuh."

Bang Sinyo pun mengimbau kepada warga Desa Cibening tentang pentingnya BPJS Kesehatan.

"Saya mengimbau kepada warga yang belum mempunyai atau belum membuat Kartu BPJS Kesehatan segera membuatnya, karena itu sangat penting," ujar Bang Sinyo.

"Karena, kalau kita sakit biaya nya ditanggung Pemerintah. Jadi tidak usah khawatir akan biaya Rumah Sakit," tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Ibu Niroh juga mengucapkan terima kasih karena telah di jenguk oleh Bang Sinyo.

"Alhamdulilah kondisi saya sudah semakin membaik, dan juga terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak Suryadi Efendi karena telah mengunjungi saya dan keluarga," ucap Ibu Niroh.

"Semoga Bang Sinyo kembali terpilih menjadi Kepala Desa Cibening, karena beliau orangnya baik dan juga peduli kepada masyarakat tanpa pilih kasih," pungkas Ibu Niroh.

Rep: Dwi
Baca selengkapnya

Friday, July 27, 2018

Ini alasan pilkada bupati bogor masuk di meja hijau MK.

Ini alasan pilkada bupati bogor masuk di meja hijau MK.

ada yang perlu kami sampaikan beberapa hal agar tidak terjadi simpang siur informasi sebagai berikut:

1. Rekapitulasi d tingkat Kabupaten sudah selesai dengan menghitung hasil rekapitulasi per kecamatan dengan hasil unggul no 2 (perolehan terbanyak sktr 41 %) dan paslon 3 sekitar 38 %.

2. Penandatangan Berita Acara rekapitulasi yang mengunggulkan Paslon No 2 sdh ditandatangani namun terjadi penolakan dari paslon no 3 dan salah satu paslon lain.

3. Berita Acara pemenang Pilkada dan penetapan Kepala Daerah hasil Pilkada Bogor belum bisa ditandatangani karena masih ada gugatan terkait sejumlah indikasi kecurangan dan kejanggalan.

4. Tim Paslon No 3 akan mengajukan gugatan ke MK terkait hasil Pilkada secepatnya berdasarkan fakta dan indikasi kejanggalan yang terjadi.

Adapun kejanggalan yang terjadi dan akan dijadikan gugatan adalah sebagai berikut:

1. Terjadinya banyak DPT tambahan di setiap Kecamatan padahal dalam surat edaran KPUD hanya 13 Kecamatan yang diberikan DPT tambahan.

2. Terjadinya selisih di sejumlah Kecamatan dan hilangnya suara pasangan JADI yang berpotensi merugikan dan mengurangi suara.

3. Terdapat angka yang tidak sinkron antara suara masuk dengan data yang ada dan berkisar antara 70 ribu suara sehingga berpotensi besar terjadinya penghilangan suara.

4. Adanya indikasi kongkalikong antara KPUD dengan Panwaslu karena KPUD selaku pelaksana dan Panwaslu selaku wasit melakukan rapat terbatas tertutup bersama yang tidak memiliki dasar hukum dan patut dicurigai.

Kesimpulan:::

Meski hasil rekapitulasi sudah di tandatangani (tim JADI dan tim salah satu paslon lain tidak ikut ttd), namun BERITA ACARA penetapan pemenang Pilkada yang layak jadi Bupati/Wabup belum ditandatangani sambil menunggu gugatan ke MK.

Semoga kebenaran masih bersama kita semua, dan keadilan dibukakan hati dan matanya.
Baca selengkapnya