Monday, August 6, 2018

Islam Nusantara di Kacamata Orang Minang.

*PERNYATAAN JUTAAN PERANTAU MINANGKABAU DISELURUH DUNIA*
Islam bagi kami hanya Islam  bukan Islam Nusantara.

Surat untuk Bp-Bp yg ingin datang ke Ranah Minangkabau untuk membujuk masyarakat Minang agar menerima  Islam Nusantara.

(Kami mohon maaf kpd sdr kami diseluruh pelosok tanah air....kami terpaksa berkata Minang.... hanya untuk mempertajam tuntutan bahwa Islam Nusantara tidak diperlukan ummat manusia dan  supaya pencipta serta pendukung Islam Nusantara SADAR sebelum nasi jadi bubur. Masyarakat Minang tidak akan meninggalkan sdr kami sebangsa yg terkapar  akibat permainan manusia aneh  dan tidak peduli Islam)

Kepada:
Yth Bp-Bp pendukung Islam Nusantara yg ingin datang ke Ranah Minang.

Bapak datang, kami berpikir.
Siapkan mental Bp dalam menghadapi *tekat bulat sepenuh jiwa kami* yg tidak akan bisa digoyahkan oleh ancaman sekejam apapun.Mengenai Islam kami hanya patuh kpd Allah SWT.Agama yg diredhai Allah SWT hanya  Islam bukan Islam Nusantara ( Al Maidah 3, Al Shaf 7 , Ali Imran 19 dan 85)
Kami tidak peduli M U I Pusat atau siapapun mereka, apakah kami diancam dg kuali besar berisi minyak  mendidih, apakah ditangan mereka ada  meriam pencabut nyawa ,kami tidak akan mundur, apakah ditangan mereka kekuasaan pencopot jabatan ,kami tidak gentar.
Dengarkan wahai penguasa / MUI Pusat!
MUI Sumbar yg ketuanya  buya Gusrizal Gazahar adalah wakil seluruh masyarakat Minang telah memutuskan *Kami masyarakat Minangkabau tidak mengenal Islam Nusantara*, biarkanlah kami berprinsip seperti itu.
Kami semua masyarakat perantau  Minang dilima benua berdiri teguh membela ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar, krn kami tahu ulama  Minang  bukan ulama lapar jabatan, bukan ulama penggadai aqidah, bukan ulama penjual reputasi dg 2 trilliun, bukan ulama pendukung penista, bukan ulama yg sok toleran (berkata hanya  muslim anti NKRI, menuduh hanya  muslim anti Kebinnekaan, berkoar hanya  muslim anti Panca Sila, berteriak hanya muslim intoleran).
Jangan paksakan kpd kami masyarakat Minang  untuk ikut setuju Islam Nusantara, bagi kami Islam adalah Islam, hormati hak azazi kami masyarakat Minang dalam menentukan jalan Akhirat kami.
Kami tahu didunia Iblis ada Islam Arab, ada Islam Grup Penista, ada Islam Abangan, ada Islam KTP, ada Islam sok tolerant, ada Islam Nasi Uduk dst. Disini kami tegaskan: kami masyarakat Minang 100% beragama Islam kalaupun ada orang Sumbar yg murtad,  sesuai hukum adat simurtad tsb dibuang sbg orang Minangkabau otomatis terpecat sbg orang Minangkabau walaupun nenek moyangnya lahir di Sumbar ( apakah penganut Islam Nusantara dibuang juga? ..kita belum tahu, siapa tahu kelak? kita tidak tahu)

Kata Adat
Adat basondi syarak, syarak basondi kitabullah, artinya Adat Minang mengikuti aturan agama, agama itu adalah Islam bukan Islam Nusantara.
Memang adat Minangkabau dicipta oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Ketamanggungan beratus-ratus tahun lalu, tapi dg kesepakatan masyarakat Minangkabau diputuskan   adat Minang dikokohkan wajib mengikuti ajaran Islam terutama sesudah Perang Paderi 1821 -1837 kelompok penjajah kalah walaupun Tuanku Imam Bondjol dijebak penjajah dan ditangkap. Hubungan adat dg Islam adalah " syarak mangato adat mamakai" artinya apa perintah agama harus dikuti oleh adat.

Jika ada Bp-Bp pendukung Islam Nusantara ingin datang ke Sumbar untuk membujuk atau mengancam masyarakat Minang agar setuju dg Islam Nusantara lebih baik berpikir beribu kali, seperti yg dikatakan wakil ketua MUI Bp ZT bahwa penolakan konsep  Islam Nusantara oleh MUI Sumbar menyalahi khittah dan jati diri MUI, kami masyarakat Minang  mempunyai khittah dan jati diri berdasarkan Islam bukan Islam Nusantara.
Ketua MUI Pusat K H MA mengatakan akan menegur pihak MUI Sumbar yg menolak konsep Islam Nusantara, sang ketua menambahkan bahwa MUI provinsi wajib mematuhi aturan MUI Pusat (Detik.com).
Aturan dimasyarakat  Minang " raja adil raja dipatuhi, raja tidak adil raja disanggah".
Dengarlah wahai penguasa! Kami semua masyarakat Minang berdiri teguh mendukung dan akan membela ketua MUI Sumbar buya Gusrizal Gazahar yg mengatakan " Kami teguh menjaga Ranah Minang tempat kami menghirup udaranya, meneguk airnya,kami merasakan detak nadi kehidupannya, krn kami hidup ditengah masyarakat  maka kami bertanggung jawab mengatakannya bahwa negeri kami tidak membutuhkan istilah Islam Nusantara."
Kalau Bp-Bp ingin menjaga kesatuan ummat maka jangan mencari -cari penyakit dg mencipta Islam Nusantara. Kami ingin bertanya "apa untungnya membuat istilah Islam Nusantara?apakah ingin dipuji kafir?apakah ingin disanjung oleh musuh Islam? apakah ingin dipuja oleh  intelijen musuh Islam?apakah ingin dapat uang dua triliun ? Semua diatas Kita tidak tahu.
Jangan paksa kami masyarakat Minang menggunakan istilah Islam Nusantara.

Saran untuk Bp-Bp yg ingin datang kesumbar
(Kabarnya tuan prof. DS mau datang kesumbar ) antara lain:
1.  Seluruh masyarakat Minang baik   perantau maupun  yg tinggal dikampung halaman tetap kokoh dibelakang ketua MUI Sumbar  buya Gusrizal Gazahar yg tidak akan merubah istilah Islam
dg Islam Nusantara, kami tidak peduli walaupun ia adalah utusan presiden sekalipun.Kami masyarakat Minang tidak akan menyerah. Oleh sebab itu Bp undurkan saja untuk mengunjungi ranah Minang. Ibarat pepatah " tersesat biduk dibelokkan, tersesat kata dipikirkan", bagi masyarakat Minang pepatahnya: "sekali layar dikembangkan selama itu kebenaran ditegakkan"
2.  Bp-Bp belajar dulu sejarah adat basondi syarak, syarak basondi kitabullah.syarak yg dimaksud adalah agama Islam bukan Islam Nusantara. Diranah Minang Islam tidak akan digadaikan walaupun ditawar dg emas sebesar gunung Uhud.
3.  Kami masyarakat Minang tidak akan bermain-main dg agama Islam. Buya Hamka memilih penjara dari pada mencabut fatwa dg tekat yg sama dengan buya Hamka,kami seluruh masyarakat Minang memilih penjara daripada menyetujui Islam diubah menjadi Islam Nusantara.
4.  Ada istilah di Minangkabau " syarak mangato, adat mamakai" syarak itu adalah Islam bukan Islam Nusantara, artinya adat Minang tunduk kpd perintah agama Islam bukan Islam Nusantara.

Kesimpulan:
Lebih baik kita pelihara  persaudaraan sebangsa dan setanah air daripada memaksa masyarakat Minang untuk setuju menerima  Islam Nusantara.
Terima kasih.
Maaf lahir batin
*Payakumbuh 1 Agus '18*
Ketua Perencana Asosiasi Perantau Minang Sedunia
*Dr. Wazri Abdullah Afifi Ph.D, MBA, MICR.*

Bagikan

Artikel Sering Dibaca

Islam Nusantara di Kacamata Orang Minang.
4/ 5
Oleh

Subscribe Via Email

Suka Dengan Artikel Z@MAN.HP Management? Tambahkan Email Anda Untuk Berlangganan.